Tuesday, January 10, 2017

Kenapa Harus Bersikeras Belajar Bahasa Inggris

Tulisan kali ini benar-benar merupakan opini saya sendiri. Saya mengangkat topik ini dikarenakan banyak sekali yang memperlakukan bahasa Inggris seakan-akan seolah-olah momok yang menakutkan dan harus bisa dikuasai.

Sumber Photo: pexels.com

Pada awal saya belajar bahasa Inggris, saat sekolah di MtsN, saya memang tidak tahu menahu apa itu bahasa Inggris. Namun teman-teman sekelas saya sudah cas-cis cus ngomong bahasa Inggris. Gurunya pun ngomong bahasa Inggris. Pusing hamba sebagai anak murid. Beriring waktu apapun yang saya pelajari dari bahasa Inggris, saya tidak begitu paham. Lalu tibalah suatu hari saya ikut sebuah kursus. Singkat cerita dari situ saya memulai banyak mengetahui vocabulary dalam bahasa Inggris. Hingga kini pun saya masih belajar bahasa Inggris. Karena pada hakikat nya bahasa itu tidak seperti matematika yang satu tambah satu sama dengan dua. Jangan salah pengertian terlebih dahulu, saya ikut les tidak lah terpaksa, dan saya sendiri tidak mengabaikan pergi ke TPA (mengaji) juga saat itu.

Penting tidak belajar bahasa Inggris?

Penting tidak penting tergantung kepada misi si anak untuk masa depannya menurut saya. Saya punya misi dari kelas 6 SD untuk bisa ke Amerika. Yes, misi itu tercapai di tahun 2009, bermodalkan passport dan dua buah koper saja saya berangkat. Yes, tanpa uang lain-lainnya yang saya bawa. Dan Yes juga bahwa itu beasiswa. Dan iYes itu karena bahasa Inggris. Saat itu kemampuan bahasa Inggris saya masih sangat rendah, disitu saya berjuang habis-habisan untuk belajar bahasa Inggris (dan sampai sekarang masih belajar bahasa Inggris). Saya terpikir bahwa ini lah pentingnya bahasa Inggris. Jadi sekarang saya pulangkan pertanyaan itu kepada teman-teman pembaca.


Sumber Photo: pexels.com

Untuk berdakwah?

Mungkin ini bisa jadi salah satu alasan kenapa belajar bahasa Inggris. Sebagai seorang muslim, kita memang memiliki tugas untuk berdakwah kemana saja kita pergi. Dan setelah banyak pengalaman, ternyata berdakwah dengan non-muslim di luar negeri tidak mesti harus menggunakan bahasa Inggris. Cukup dengan perbuatan-perbuatan kita saja. Banyak non-muslim yang tertegun hanya dengan sikap kita saja sebagai Muslim. Tanpa harus berkoar-koar kesana-kemari. Karena pada hakikatnya agama mereka untuk mereka dan agama kita untuk kita namun kita hidup tempat tinggal di satu planet nan biru ini untuk saling menghormati.

Untuk berkomunikasi dan berbagi ilmu?

Ya saya setuju bahwa kenapa kita harus belajar bahasa Inggris dan ini salah satu alasannya yang sangat setroooong (Strong). Namun saya tidak ingin menggaris bahwahi bahwa bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa asing yang wajib kita pelajari. Pola pikir ini terbuka saat saya menjadi seorang asistant professor di YZU. Beliau menunjukkan satu video, dari TED Talk, pematerinya Patricia Ryan. Ia seorang guru di Dubai yang telah mengajar bahasa Inggris di Dubai lebih dari 30 tahun. Amazing. Apa yang ia lihat dari perkembangan bahasa Inggris dan bahasa Arab telah menuntunnya untuk berfikir kenapa haris memaksa seseorang belajar bahasa Inggris.

Kenapa tidak belajar bahasa-bahasa apa saja. Tentu saja Patricia Ryan percaya bahwa bahasa Inggris adalah bahasa global yang dapat mempersatukan kita semua. Baik itu dalam membahas isu-isu global, pendidikan, ekonomi, dan lain-lainnya. Tapi melalui speech yang diberikannya, saya tertegun. Benar juga ya, kenapa kita harus terlalu fokus dengan bahasa Inggris dan meng-kesampingkan bahasa-bahasa ibu dan lokal yang telah kita miliki.

Selanjutnya ia memberikan contoh terhadap pengaruh bahasa dan ilmu pengetahuan. Ia tinggal di Dubai, dan di Dubai banyak tumbuh-tumbuhan yang tidak di kenal oleh orang Inggris atau Amerika sehingga tumbuh-tumbuhan tersebut memiliki nama sebutan tersendiri dalam bahasa Arab. Nah, tumbuhan-tumbuhan itu di jadikan rempah-rempah untuk masak, kosmetik, dan obat-obatan herbal. Dan itu tidak diketahui oleh orang-orang Inggris sehingga di dalam bahasa Inggris mereka tidak memiliki istilah untuk nama tanaman-tanaman itu. Sehingga orang-orang Inggris/Amerika yang ingin mempelajari tanaman-tanaman tersebut harus belajar bahasa Arab untuk mengetahui segala manfaat dari tanaman tersebut. Di Aceh sendiri masih banyak tanaman-tanaman/benda-benda yang belum di ketahui oleh orang "sana" dan hanya orang-orang Aceh yang memiliki istilah tersebut. Contoh saja "Pliek U" atau "Timphan".

Jadi setelah menonton dan menyimak speech dari Patricia Ryan, saya akhirnya menyadari bahwa bahasa Inggris sebagai jembatan kedunia luar dan bahasa ibu/lokal kita adalah jembatan ke dunia kita. Dan fungsi nya kita mempelajari bahasa Ibu/lokal dan bahasa Inggris adalah sebagai perantara antara keilmuan di dunia luar dan dunia kita. Sehingga kita bisa memberikan banyak manfaat baik untuk masyarakat kita sendiri dan masyarakat dunia. Baik itu ilmu dari dunia luar (yang baik-baik) yang kita bagikan ke masyarakat kita, maupun ilmu dari dunia kita (yang baik-baik) yang kita bagikan ke masyarakat dunia.

Nah untuk itu, kenapa harus belajar bahasa Inggris pun ada di benak masing-masing. Bagi saya jika tidak ada yang mau belajar bahasa Inggris, maka tidak bisa kita paksakan. Karena bagi saya jika seseorang yang tidak bisa bahasa Inggris dan memiliki keinginan untuk bisa, maka kita harus bantu dan insyaALLAH pasti ianya bisa suatu hari. Intinya adalah istiqamah, belajar bahasa Inggris itu setiap hari, walau pelan tapi insyaALLAH pasti bisa. Ibaratnya kita ingin berenang, maka yang harus kita kumpulkan adalah air untuk kolam renang itu sendiri. Disaaat kita memiliki kolam renang sendiri, apakaha lantas kita bisa berenang? tidak, kita harus nyebur, dan sesekali tenggelam, dan terus berlatih sampai akhirnya kita bisa.

Saya juga tidak suka jika ada orang tua yang terlalu khawatir jika anaknya tidak bisa bahasa Inggris. Saya juga tidak senang jika ada seorang ustad yang mengkafirkan bahasa Inggris. Karena ada banyak orang non-muslim di Arab saudi yang berbicara bahasa Arab, bahkan kita suci mereka pun di tulis dalam bahasa Arab. Sebaliknya, di negara-negara western memiliki muslim-muslimah yang mana mereka memang berbicara bahasa Inggris.

Maka kita tidak bisa mengkafirkan sebuah "bahasa". Itu adalah pola pikir yang menurut saya kurang tepat. Saya pun tidak begitu setuju jika TOEFL sebagai "gerbang hitam" yang harus di lalui setiap mahasiswa dari berbagai jurusan di universitas. Karena tes TOEFL hanya bisa menjadi penghalang-penghalang besar bagi mahasiswa jenius namun tidak bisa bahasa Inggris. Patricia Ryan memberikan contoh Albert Einstein dan juga ia menyebutkan masa kejayaan Islam karena terjemah-terjemahan ilmu pengetahuan dari beragam bahasa.

Seperti yang saya sudah utarakan diatas bahwa sikap saya terhadap bahasa Inggris tidak begitu "strict". Kita harus memiliki beberapa bahasa yang kita kuasai. Dimana kita sebagai generasi bumi dimasa depan memiliki andil dalam kemajuan khazanah keilmuan, dan juga sebagai negosiator, dan sebagai anak muda yang bisa memberikan solusi-solusi terhadap isu-isu global. Oleh karenanya mari kita mempelajari bahasa apa saja, dan jika boleh saya kutip kata-kata Patricia Ryan "Let's celebrate diversity, mind your language" :D

Anyway, setelah panjang lebar menjabarkan, saya ingin mengucapkan terima kasih sudah membaca. Dan teman-teman sekalian boleh tidak setuju dan boleh setuju. Dari awal saya menuliskan bahwa ini hanya opini saya sendiri. Silakan teman-teman share pendapatnya melalui komen di bawah ini. ^_^

Baca juga: Bahasa Inggris, Bahasa Kafir?

Baru belajar menulis blog dengan serius di tahun ini. Semoga tulisan yang saya persembahkan bisa di ambil manfaat nya terutama dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa Inggris. 

2 comments

lebih gilanya lagi kadang yang fasih agama berbicara jangan mentuhankan google,krn google bukan guru kita.menurut opini anda itu gmn mas cara menyikapi hal ini?....sementara saya sendiri bisa berkecimpung di dunia bloger meskipun sekolahnya tdk sampai kuliah,berkat belajar bahasa inggris dr google translate akhirnya saya bisa merakit komputer dan membuat blog meskipun baru belajar saat ini...

Wah saya pikir tulisan ini tidak ada yang baca :D Terima kasih sudah membaca artikel saya yang aneh ini :D - menurut saya sih Google itu kan search engine ya, persis seperti sebuah pustaka dimana ianya menyediakan banyak informasi. Ada baiknya kalau informasi berkenaan dengan agama, ada baiknya kita mengetahui sumber aslinya dan di cek (double cek, triple cek kalau bisa) terlebih dahulu dengan sumber asli. Ambil positifnya aja Mas. ^_^ pastinya gugle juga juga memiliki niat yang sama yaitu memajukan banyak negeri dengan akses informasi yang banyak. Nah kita nya saja yang harus cek dan ricek. ^_^


EmoticonEmoticon