Saturday, February 4, 2017

TOEFL: Teacher's Dilemma

Test of English as Foreign Language atau disingkat dengan TOEFL merupakan test bahasa Inggris bagi kita yang memperlakukan bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Awalnya test TOEFL di peruntukkan bagi mahasiswa luar negeri yang bukan penutur bahasa Inggris dan berkeinginan masuk kuliah di Amerika Serikat (U.S.). Agar bisa diterima di kampus U.S., mereka menetapkan standard kelulusan dengan skor TOEFL yang rata-rata 500 keatas (sekarang).

Tidak heran jika banyak perguruan tinggi men-syarat-kan mahasiswa memiliki nilai TOEFL. Dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia, ada di antaranya yang meng-haruskan calon mahasiswa memiliki nilai TOEFL yang sudah ditetapkan untuk mendaftar di kampus tersebut. Di lain sisi ada beberapa perguruan tinggi yang tidak men-syarat-kan nilai TOEFL untuk masuk perguruan tinggi, namun untuk salah satu syarat naik sidang skripsi atau thesis, mahasiswa/i tersebut harus memiliki nilai TOEF yang sudah di tetapkan nilai standard-nya.

Nilai standard TOEFL yang di tetapkan oleh perguruan tinggi berbeda-beda dari satu universitas ke universitas lainnya. Disamping itu, dari berbagai fakultas pun berbeda-beda dalam menetapkan skor TOEFL yang memenuhi syarat untuk naik sidang. Pada umumnya skor TOEFL 470 keatas sudah memenuhi syarat. Akan tetapi nilai 470 ini bukanlah nilai yang gampang ntuk diraih bagi sebagian besar mahasiswa, terutama di Aceh.

Teacher's Dilemma

Bagi sebagian mahasiswa (atau 'mahasisa'), jangankan 470, mendapatkan 450 saja sudah belajar 'jungkir balik', konon lagi 470. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang mengikuti test TOEFL tanpa mempersiapkan diri terlebih dahulu. Maksudnya adalah belajar memahami apa itu test TOEFL, bagaimana ciri-ciri soal TOEFL, berapa jumlah soal nya, mengerjakan soal-soal TOEFL secara otodidak maupun bergroup, dan lain sebagainnya. Lalu di saat sudah berkali-kali mengikuti tes TOEFL, barulah sadar untuk mengikuti kursus atau minimal mencari guru private untuk belajar TOEFL dengan serius.

Sumber Photo: pixabay.com

Disaat mengikuti kursus, baik jangka panjang maupun jangka yang singkat, seorang guru atau instructor atau dosen yang membimbing si mahasiswa harus mengetahui benar seberapa jauh kemampuan si anak didiknya itu. Diharapkan si mahasiswa memiliki kemampuan dasar-dasar dari bahasa Inggris, baik itu dari vocabulary nya, struktur kalimat, dan membaca nya. Namun apa yang sering kami jumpai di lapangan justru mahasiswa nya tidak memiliki kemampuan tersebut. Jangan kan suruh baca satu paragraph, huruf-huruf dalam bahasa Inggrispun tidak bisa. Kalau pun bisa angka-angka, maka cuma sampai 10 selebih daripada itu sudah mulai kacau. Memiliki anak didik seperti ini akan memusingkan instruktur/dosen/guru yang membimbing nya.

Hal tersebut lah yang sering terjadi di lapangan. Kami suka dilemma sendiri dikarenakan bahan ajar TOEFL sangat tinggi, cocok untuk pelajar level advance, sedangkan kemampuan mahasiswa nya hanya level basic. Sehingga di kelas kami sering mengajarkan hal-hal yang mendasar ketimbanng membahas tentang TOEFL. Dan pada akhirnya pun kami (beberapa istruktur TOEFL di Banda Aceh) sering sekali sepakat bahwa mahasiswa dengan kemampuan seperti basic harus mengikuti kelas basic pula. Tapi itu hanya sebuah khayalan. Kenapa? karena mahasiswa nya terdesak harus segera memiliki nilai TOEFL yang sudah di tentukan skor minimum nya agar bisa bisa naik sidang, jika tidak maka ia di D.O., itulah mahasiswa yang kami sebut dengan 'mahasisa'.

Dengan fenomena seperti itu, kami pun kebingungan dalam menyampaikan materi. Kebanyakan materi dari TOEFL saling berkaitan dari satu soal ke soal lainnya. Misalnya pada soal no.1 berkenaan dengan present tense, lalu di soal no. 2 berkenaan dengan past tense, lalu soal no. 3 berkenaan dengan kalimat passive dalam bentuk past tense. Menuntut kita untuk bekerja super keras untuk menyampaikan materi yang rumit namun dengan cara yang super simple. Dan mahasiswanya masih geleng-geleng aja tidak memahami apa yang kita sampaikan. Akhirnya teacher's dilemma.

Sebenarnya gak perlu harus pusing. Hanya cukup mengajarkan, bisa gak bisa itu terserah kepada murid. Betul tidak? Akan tetapi, kita sebagai instruktur TOEFL tidak merasa puas jika anak didik kami tidak mendapatkan ilmu apapun yang kami sampaikan.

Standard Kelulusan.

Seperti yang sudah kita bahas diatas syarat untuk naik sidang harus memiliki nial skor TOEFL yang telah di tetapkan. Berbeda jurusan/fakultas, bereda pula skor nya. Yang menjadi dilemma tersendiri bagi kami adalah mahasiswa katakan lah dari fakultas Ushuluddin, dimana keseharian mereka hanya banyak membaca dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa Arab. Jika ada, pasti hanya sedikit dari bahan yang berhasa Inggris. Lalu standard kelulusan TOEFL bagi mereka hingga 470 yang mana hal itu tidak mudah. Sejauh ini kami percaya bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang penting saat ini, dan nilai TOEFL juga sangat penting. Tapi jika untuk fakultas atau jurusan yang tidak belajar tentang bahasa Inggris lalu standard kelulusan nya segitu, kita rasa kurang fair. Iya benar dengan berdalihkan untuk peningkatan mutu, makanya nilai standard nya begitu. Tapi wait, sampai saat ini saya pribadi belum pernah membaca sebuah penelitian terhadap tinggi nya nilai TOEFL berdanding lurus dengan kecerdasan seseorang. Jika ada pembaca di sini yang pernah membaca penelitian tersebut mohon di share ke kami via komentar maupun via form contact.

Sejauh ini tolok ukur nilai TOEFL menjadi hal yang di banggakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini hasil diskusi dengan banyak kolega-kolega dan beberapa dosen lainnya. Saya setuju dengan hal tersebut, akan tetapi kita telah menjadi penjaga gerbang yang sangat hitam. Jika mereka tidak mendapat kan skor TOEFL sesuai dengan standard kelulusannya maka tidak akan ada jalan keluar lain. Fenomena ini sungguh sangat disayangkan. Lagi-lagi saya mengingatkan bahwa ini pendapat pribadi. Karena ada banyak mahasiswa di luar sana yang tidak bisa bahasa Inggris, namun sangat jenius. Kita telah mematikan 'karir' nya untuk terus maju, hanya karena bahasa asing 'itu'. Contoh kasus Albert Einstein.

Namun apa yang terjadi dilapangan, tes TOEFL sudah semacam 'bisnis', yang mana setiap tahunnya mahasiswa berbondong-bondong mengikuti tes TOEFL. Jika gagal, maka ia akan ikut lagi. Jika gagal maka ia akan ikut lagi dan lagi. Dan jika masih gagal, maka ia tetap harus ikut lagi lagi lagi dan lagi hingga ia pun kebingungan mencari uang kemana lagi agar bisa membayar pendaftaran ikut TOEFL. Miris memang, tapi ini lah yang terjadi di lapangan, banyak mahasiswa yang stress berat hanya gara-gara 'si monster itu'. Maka daripada itu, kita setidaknya bisa mempertanyakan niat tes TOEFL itu bagi negeri ini sebenarnya apa? Ada baiknya standard kelulusan itu tidak perlu di paksakan kepada beberapa fakultas dan jurusan yang memang tidak mempelajari bahasa Inggris secara mendalam. Dengan begitu mereka tetap bisa mengejar impian mereka.

Sekian artikel kali ini tentang dillema seorang instruktur TOEFL. Sekali lagi ini hanyalah opini pribadi, pembaca bisa memiliki pendapat yang berbeda. Silakan meninggalkan pesan atau memebri masukan. Thank you for reading.

Baru belajar menulis blog dengan serius di tahun ini. Semoga tulisan yang saya persembahkan bisa di ambil manfaat nya terutama dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa Inggris. 


EmoticonEmoticon